Rabu, 09 Juni 2010

Petani di Kab. Kuningan Manfaatkan Kotoran Sapi Sebagai Pupuk Organik Murah Meriah



PARA petani anggota Kelompok Tani Mandiri Desa Ciketak Kec. Kadugede Kab.Kuningan, kini tengah giat mengolah limbah peternakan khususnya kotoran sapi untuk dijadikan pupuk organik yang dapat memberikan manfaat bagi dunia tumbuhan, disamping membuka peluang usaha bagi anggota kelompok tani itu sendiri.
“Sedikitnya 40 ton kotoran sapi dibutuhkan kelompok tani yang bergerak dibidang usaha ternak sapi penggemukan tersebut, setiap melakukan permentasi. Mereka mencoba memanfaatkan sumber daya alam berupa limbah peternakan yang ada dari tidak berguna menjadi berguna setelah diproses menjadi barang berharga bagi kehidupan petani. Pembuatan pupuk kompos dari bahan kotoran sapi itu, memelukan waktu 15 hari untuk masa permentasi sehingga menjadi komoditas usaha yang menguntungkan”ungkap Ir.Tatang Rustandi, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kab. Kuningan.

Tatang Rustandi menjelaskan, bahwa volume kotoran sapi di Kab.Kuningan khususnya di sentra peternakan di daerah Kec. Cigugur cukup melimpah. Apalagi bila ditambah dengan peternakan sapi yang ada di sejumlah kecamatan lainnya seperti di Kec. Cimahi, Subang, Cilimus dan Jalaksana sehingga tak pernah kekurangan.
“Dalam sehari saja, jumlah kotoran sapi dari Kec. Cigugur dan sekitarnya bisa dihasilkan sebanyak kurang lebih empat mobil tronton atau sekira 60 ton/hari yang selama ini diangkut dan dijual ke Kab.Garut, Sumedang, Cianjur, Losari, Cirebon, Indramayu, Bandung dan sekitarnya.”jelasnya.

Selama ini,lanjut Tatang, bahwa kotoran sapi dijual seharga Rp 5.000 per karung (30 kg) dan setelah diproses jadi pupuk organik laku dijual seharga Rp 3.500 per kg. Karenanya, Kelomok Tani Mandiri ingin memanfaatkan bahan baku yang berlimpah itu menjadi barang berharga, disamping memperoleh nilai tambah bagi para anggota kelompok tani itu sendiri.

Pembina Kelompok Tani Mandiri, Yudi Zanibar menambahkan, Kuningan kaya akan sumber alam, termasuk kotoran ternak cukup berlimpah dan mudah didapat di sentra sapi yang tersebar di sejumlah kecamatan.

“Jika hanya mengandalkan limbah ternak dari kelompok tani sendiri dengan jumlah 35 ekor sapi relatif kurang karena kelompoknya minimal membutuhkan kotoran sapi antara 30-40 ton dalam satu kali proses permentasi pembuatan pupuk organik.”kata Yudi Zanibar.

Untuk menutupi kekurangannya,Kelompok Tani Mandiri di Desa Ciketak ini mendatangkan kotoran sapi dari kecamatan lain yang ada di Kuningan dengan sistem saling menguntungkan. “Untuk tahap awal proses pembuatan pupuk organik, kelompoknya masih terbatas disesuaikan dengan kapasitas peralatan yang dimiliki kelompok. Rata-rata bahan baku kotoran sapi yang diperlukan sebanyak 15-20 ton per minggu atau rata-rata 40 ton dalam satu kali permentasi.“

Sebelum dipasarkan, kata Yudi, hasil produksi pupuk organik terlebih dahulu akan dilakukan ujicoba di laboratorium untuk memperoleh sartifikasi. Setelah mendapat sertifikasi, maka akan dipasarkan sesuai program pemerintah sebagaimana dianjurkan Menteri Pertanian yang menyanangkan pada tahun 2010 mendorong penggunaan pupuk organik.—(REDI MULYADI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar