Senin, 05 Oktober 2009

PENGENDALIAN HAMA TIKUS SECARA TERPADU





TIKUS termasuk hama kedua terpenting pada tanaman padi di Indonesia.Ini perlu mendapat perhatian khusus di samping hama lainnya.Karena kehilangan hasil produksi akibat serangan hama tikus cukup tinggi.
Usaha untuk mengendalikan ‘si monyong’ tikus ini sudah banyak dilakukan oleh para petani,mulai dari sanitasi,kultur teknik,fisik,cara hayati,mekanik dan kimia.Namun diakui,bahwa cara-cara pengendalian tersebut belum dilakukan secara terpadu,sehingga harapan untuk menekan populasi tikus pada tingkat yang tidak merugikan ternyata sulit dicapai.
Pengendalian hama secara terpadu (PHT) ini akan terlaksana dengan baik bila petani menghayati konsep dasarnya dan menguasai berbagai cara pengendalian ke dalam suatu program yang sesuai dengan jenis organisme pengganggu dan ekosistem pertanian di tempat tersebut.
Konsep pengendalian hama terpadi,sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1947-an,meskipun sebelumnya penanggulangan hama dengan jalan memadukan beberapa pengendalian sudah dilaksana kan.
LANGKAH AWAL
PHT dapat didefinisikan sebagai cara pengendalian dengan memasukkan beberapa cara pengendalian yang terpilih dan serasi serta memperhatikan segi ekonomi,ekologi dan toksikologi sehingga popilasi hama berada pada tingkat yang secara ekonomi tidak merugikan.Artinta,bahwa PHT bertujuan untuk menekan populasi hama sampai pada tingkat yang tidak merugikan,pengelolaan kelestarian alam dan optimasi produksi pertanian.
Sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus sawah dengan menerapkan PHT,sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu biologi dan ekologi tikus,sehingga petani akan lebih mudah meng identifikasi untuk selanjutnya dilakukan pengendalian.
Tikus termasuk ordo Rodentia,famili Muridae dan sub-famili Murinae.Dari sub-famili ini ada dua genus yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yakni genus Mus dan Rattus.
Pada umumnya,tikus sawah (Rattus orgentiventer) tinggal di pesawahan dan sekitarnya,mempunyai kemampuan berkembang biak sangat pesat.Jika secara teoritis,tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus saja. Walaupun keadaan ini jarang terjadi,tetapi hal ini menggambarkan, betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun.
Perkembangan tikus di alam banyak dipengaruhi faktor lingkungan,terutama ketersediaannya sumber makanan,dan populasi tikus akan meninglat berkaitan dengan puncak pada masa generatif.
Kegiatan tikus lebih aktif pada malam hari,dan kegiatan hariannya sangat teratur mulai dari mencari makanan,minum,mencari pasangan sampai orientasi kawasan.Untuk menghindari dari lingkungan yang tudak menguntungkan,tikus biasanya membuat sarang pada daerah lembab,dekat dengan sumber air dan makanan seperti di batang pohon,sela-sela batu,gili-gili irigasi,tanggul,jalan kereta api dan bukit bukit kecil.
Petani dapat membedakan mana yang disebut tikus sawah dan mana tikus rumah.Pada umumnya,tikus salah selain melakukan aktivitasnya di sawah,juga dapat melakukan aktivitasnya di rumah. Sedangkan tikus rumah (Rattus ratusdiardii) hanya melakukan aktivitasnya hanya di rumah saja.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tikus dapat dilihat pada batang padi yang terpotong dan membentuk 45oC serta masih mempunyai sisa bagian batang yang tak terpotong.Pada fase vegetatif tikus dapat merusak 11-176 batang per malam.Sedangkan pada saat bunting,kemampuan merusak meningkat menjadi 24-246 batang padi per malam.
Sebagai binatang pengerat,tikus dalammemenuhi kebutuhan hidupnya mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1,yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambang panjang,dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya.
PHT YANG TEPAT & EFEKTIF
Jika sudah mengetahui biologi dan ekologi tikus,maka diharapkan petani dapat mengendalikan tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan di lapangan,serta mampu menerapkan konsep PHT.Pengendalian tikus sawah harus dimulai secara diri, yakni dimulai pada saat sawah bera (setelah panen),pada masa gevetatif dan masa generatif.Pengendalian hama tikus pada saat sawah bera bias dilakukan dengan 5 cara sebagai berikut:
• Pertama dengan sanitasi lingkungan,melakukan pembersihan rumput rumput atau semak-semak yang biasa digunakan tikus untuk bersarang.
• Kedua,yakni cara fisik dan mekanik,dengan melakukan pembongkaran sarang tikus,kemudian dibutu dan dibunuh (gropyokan) secara missal dan memasukkan air ke dalam sarangnya,tikus yang keluar dibunuh tanpa merusak pematang.
• Ketiga,yakni cara kultur teknik dengan cara melakukan penanam secara serempak meliputi areal yang laus,misalnya seluas 0-100 hektar.Cara ini dilakukan untuk menghindari tersedianya makanan bagi tikus.
• Keempat,yakni melalui cara biologi/hayati dengan memanfaatkan musuh-,usuh alaminya seperti ular sanca, ularwelang,anjing dan lainnya.
• Kelima,yaitu dengan memasang tirai persemaian pada saat padi disemai,di mana cara ini dilakukan untuk melindungi persemaian padi dari tanaman tikus.Bahan yang digunakan dari lembaran plastik atau lembaran kaleng bekas,tirai di pasang di sekitar persemaian dengan tingga sekitar 50 cm.
RODENTISIDA
Pengendalian tikus pada saat padi pada masa gevetatif dilakukan secara sanitasi lingkungan dan kimia (Rodentisida).Cara tersebut di nilai cukup efekti,karena pada masa vegetatif tikus sudah mulai melakukan penyerangan terhadap areal pesawahan dan merusak batang padi.Cara rodentisida dilakukan bila populasi tikus yang tinggi.
Rodentisida yang biasa digunakan adalah racun akut dan racun anti-koagulan.Contoh rodentisida akut yakni czincposphide diberikan dengan cara diumpankan dengan dosis 22 gram per hektar dicampur umpan sebanyak 2,5 kg.Sedangkan rodentisida antikoagulan yakni racumin,tomorin,dekafit,klerat,RMB dan lainnya yang siap pakai yang penggunaannya dengan rodentisida akut.
Sementara bahan yang bisa digunakan sebagai umpan antara lain beras,gabah,jagung,ketela pohon,ubi jalar dan lainnya.Penempatan umpan dapat dipasang sepanjang kira-kira 25 gram per hektar pertumpukan dengan jarak 4 meter.
Sebelum pemberian umpan beracun sebaiknya dilakukan perumpanan pendahuluan.Hal ini bertujuan untuk membiasakan tikus makan umpan dengan jalan memberi umpan tanpa racun selama 2-3 hari.Waktu pengumpnanan disesuaikan dengan keadaan populasi tikus.Umpan diberikan 15 hari sebelum tanaman,15 hari setelah tanam, dan 45 hari setelah tanam.
Sesungguhnya,cara penggunaan rodentisida di lapangan menurut konsep PHT,hendaknya dilakukan sebagai alternative terakhir apabila cara cara pengendalian lain dinilai tidak efektif lagi.Itupun dengan catatan,penggunaannya harus secara bijaksana dan tepat dosis.
Pengendalian hama tikus ketika generatif,yang lebih baik dan efektif adalah dengan pengemposan.Jika cara rodentisida tidak berhasil.Hal ini disebabkan pada masa generatif makanan berlimpah sehingga umpan yang beracun tidak akan dimakannya.
Adapun cara pengemposan dilakukan dengan menggunakan asap atau gas beracun yakni hasil pembakaran serbuk belerang bersama merang atau sabut kelapa dengan perbandingan 1: 1,5 kemudian dimasukkan ke dalam liang yang menjadi sarang tikus. (REDI MULYADI)*****

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar